Perjalanan Terakhir Abdul Wahab di Tanah Suci

Suatu hari, setelah seluruh kebutuhannya terpenuhi, Abdul Wahab menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para petugas.

“Semoga adik-adiknya diberikan pahala berlipat karena sudah mengurus kami,” katanya.

Ucapan itu membuat Febri terharu. Ia pun memberanikan diri meminta doa karena selama lima tahun menikah belum juga dikaruniai keturunan.

“Saya meminta beliau mendoakan saya. Saya sudah lima tahun menikah tetapi belum dikaruniai anak,” ungkap Febri.

Tanpa ragu, Abdul Wahab mengangkat kedua tangannya dan memanjatkan doa panjang dalam bahasa Arab. Setelah itu, ia menepuk pundak Febri.

“Sabar, Dik. Setelah pulang haji, kamu pasti diberikan keturunan,” ucapnya.

Bagi Febri, doa tersebut menjadi salah satu kenangan paling berharga yang tidak akan pernah dilupakannya.

Di balik kondisi fisiknya yang lemah, Abdul Wahab dikenal sebagai sosok yang selalu memikirkan orang lain. Bahkan, suatu malam ia meminta petugas untuk menemani Pak Murod, teman sekamarnya yang kerap gelisah dan sulit tidur.

Setelah Pak Murod tertidur, Febri melihat Abdul Wahab duduk sambil menggenggam tasbih dan mengenakan kacamata hitam yang menjadi ciri khasnya. Tidak ada keluhan ataupun raut putus asa di wajahnya.

Menurut Febri, Abdul Wahab lebih banyak bersyukur karena masih diberi kesempatan beribadah daripada mengeluhkan rasa sakit yang dideritanya.

Tekadnya pun akhirnya terwujud. Abdul Wahab berhasil melaksanakan wukuf di Arafah melalui program Safari Wukuf Lansia.

Usai seluruh rangkaian ibadah selesai, ia mengucapkan kalimat yang belakangan terasa seperti pesan perpisahan.

“Alhamdulillah, Dik. Keinginan terakhir Bapak sudah terwujud,” kenangnya.

Febri mengaku sempat memiliki firasat yang sulit dijelaskan. “Saya mendoakan beliau supaya sehat dan bisa pulang ke Indonesia. Tetapi beliau hanya tersenyum dan diam,” katanya.

Tiga hari setelah pelaksanaan Safari Wukuf, kondisi Abdul Wahab kembali menurun drastis hingga harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Selama 16 hari, para petugas terus memantau perkembangannya sambil memanjatkan doa.

Namun, Allah SWT telah menetapkan takdir terbaik. Pada 19 Juni 2026, Abdul Wahab Sulaiman mengembuskan napas terakhirnya di Tanah Suci.

Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi para petugas Safari Wukuf Lansia yang selama ini mendampinginya. Mereka kehilangan sosok lansia yang sederhana, penuh syukur, tidak pernah mengeluh, dan selalu memikirkan orang lain meskipun sedang berjuang melawan sakit.

Kini, suara lantang Abdul Wahab yang melantunkan ayat-ayat suci Alquran tak lagi terdengar dari kamar perawatan. Namun, doa, senyum, dan ketulusannya akan terus hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah mendampinginya.

“Beliau datang ke Tanah Suci dengan satu cita-cita, yaitu menyempurnakan hajinya. Allah mengabulkannya. Setelah itu, Allah memanggil beliau pulang dengan cara yang sangat indah,” tutur Febri dengan mata berkaca-kaca.

Kisah Abdul Wahab menjadi pengingat bahwa ibadah haji bukan sekadar perjalanan menuju Baitullah, melainkan perjalanan seorang hamba untuk kembali kepada Allah SWT. Dan Abdul Wahab telah menuntaskan perjalanan itu dengan penuh kemuliaan dan husnul khatimah.***