Perjalanan Terakhir Abdul Wahab di Tanah Suci

MADINAH – Perjalanan ibadah haji tidak selalu berakhir dengan kepulangan ke kampung halaman. Sebagian tamu Allah SWT justru dipilih untuk kembali lebih dahulu ke hadirat-Nya setelah menuntaskan salah satu perjalanan spiritual paling agung dalam hidup mereka.

Kisah tersebut membekas mendalam dalam ingatan Muhamad Febri Ramdani, petugas Safari Wukuf Lansia (SWL) Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2026. Sosok yang tak pernah ia lupakan adalah Abdul Wahab Sulaiman, jemaah haji berusia 80 tahun asal Kloter JKG 17 Lampung.

Bagi para petugas, Abdul Wahab bukan sekadar jemaah yang harus dilayani, melainkan sosok yang memberikan pelajaran berharga tentang kesabaran, keikhlasan, dan keyakinan kepada Allah SWT hingga akhir hayatnya.

“Nama beliau akan selalu terpatri dalam ingatan kami. Beliau mengajarkan banyak hal tentang ketulusan dan keyakinan kepada Allah,” ujar Febri.

Perkenalan Febri dengan Abdul Wahab bermula saat dokter kloter mengajukan agar jemaah lansia tersebut masuk dalam program Safari Wukuf Lansia. Saat itu, kondisi kesehatannya sangat memprihatinkan setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit King Abdul Aziz, Madinah.

Tubuh Abdul Wahab tampak renta dan membungkuk. Namun, di tengah keterbatasan fisiknya, ia tetap memiliki tekad kuat untuk menyempurnakan ibadah hajinya.

Safari Wukuf Lansia sendiri merupakan layanan khusus yang disediakan PPIH Arab Saudi bagi jemaah sakit dan lanjut usia agar tetap dapat melaksanakan wukuf di Arafah menggunakan ambulans atau bus khusus.

Namun, proses pengajuannya tidak berjalan mudah. Saat verifikasi dilakukan, diketahui Abdul Wahab masih didampingi oleh istrinya, sementara salah satu syarat peserta Safari Wukuf Lansia adalah tidak memiliki pendamping.

“Saya sempat menolak karena harus mengikuti aturan yang berlaku,” kenang Febri.

Keputusan tersebut membuat suasana menjadi haru. Keluarga Abdul Wahab menangis dan memohon agar ia tetap diberi kesempatan untuk menyempurnakan rukun Islam kelima.

“Melihat keluarga beliau menangis dan memohon, hati saya benar-benar terguncang. Saat itu rasa kemanusiaan berbicara sangat kuat,” katanya.

Febri kemudian berkoordinasi dengan tim verifikator medis, termasuk Dokter Dewi yang menangani seleksi peserta Safari Wukuf Lansia. Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil dan Abdul Wahab dinyatakan layak mengikuti program tersebut.

“Alhamdulillah, beliau akhirnya bisa ikut Safari Wukuf. Saat itu kami semua merasa sangat bersyukur,” ujarnya.

Selama berada di hotel transit bersama para petugas, Abdul Wahab menjalani hari-harinya dengan kondisi kesehatan yang terus menurun. Meski demikian, semangat ibadahnya tidak pernah surut.

Sebagian besar waktunya dihabiskan dengan berbaring di atas tempat tidur. Namun, bibirnya hampir tak pernah berhenti melafalkan ayat-ayat suci Alquran.

“Suara beliau sangat nyaring. Padahal tubuhnya sedang sakit. Seolah beliau sedang melawan rasa sakit itu dengan ayat-ayat Allah,” tutur Febri.

Di tengah perjuangannya, Abdul Wahab hanya memiliki satu harapan sederhana, yakni menuntaskan ibadah hajinya dengan predikat mabrur.

“Bapak hanya ingin menuntaskan rukun Islam yang terakhir ini dengan mabrur, Dik,” ucap Abdul Wahab.

Kalimat tersebut terus terngiang di benak para petugas yang mendampinginya selama di Tanah Suci.

Kedekatan antara Abdul Wahab dan para petugas pun semakin terjalin. Mereka membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, menyuapi makanan, hingga memastikan pengobatan berjalan dengan baik.