SENTRAL RAKYAT – Pemuda dan mahasiswa memiliki peran historis yang penting dalam perlawanan terhadap ketidakadilan sosial dan oligarki.
Namun, pada tahun 2025, peran mereka dalam melawan oligarki dan membela kaum tertindas mengalami penurunan yang signifikan.
Artikel ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan melemahnya peran pemuda dan mahasiswa dalam menghadapi dominasi oligarki, serta tantangan dan peluang yang dapat membangkitkan kembali semangat perjuangan mereka.
Artikel ini akan menggunakan teori perubahan sosial, teori oligarki, dan kajian sosial politik kontemporer untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang fenomena ini.
Pendahuluan
Pemuda dan mahasiswa selama beberapa dekade telah menjadi bagian integral dari gerakan sosial yang melawan ketidakadilan dan oligarki.
Dalam sejarah Indonesia, peran mahasiswa tidak dapat dilepaskan dari pergerakan Reformasi 1998, yang berhasil menggulingkan rezim Orde Baru yang didominasi oleh kekuatan oligarki.
Namun, pada tahun 2025, fenomena oligarki yang semakin kuat, serta perubahan sosial dan ekonomi, telah menyebabkan penurunan signifikan dalam keterlibatan pemuda dan mahasiswa dalam gerakan perlawanan terhadap kekuasaan yang tidak adil.
Teori oligarki yang dikemukakan oleh Robert Michels menjelaskan bahwa dalam setiap organisasi atau sistem sosial, akan selalu ada kecenderungan menuju konsentrasi kekuasaan pada sekelompok kecil individu yang mengontrol struktur kekuasaan.
Di Indonesia, fenomena ini semakin jelas terlihat dengan dominasi segelintir elit politik dan ekonomi yang mengendalikan kebijakan publik, sementara pemuda dan mahasiswa tampak semakin apatis dan terfragmentasi dalam melawan sistem tersebut.
1. Penguatan Oligarki di Indonesia pada Tahun 2025
Oligarki di Indonesia pada tahun 2025 semakin kuat dan terkonsolidasi.
Elit politik dan ekonomi saling berkolaborasi untuk mempertahankan kekuasaan mereka, sementara kebijakan publik sering kali menguntungkan segelintir orang yang memiliki akses ke sumber daya politik dan ekonomi.
Pemilu yang seharusnya menjadi sarana demokrasi sering kali dimanfaatkan untuk memperkuat kekuasaan oligarki melalui uang dan pengaruh.
Menurut teori oligarki dari Michels, dominasi kekuasaan oleh segeliilntir orang dapat menghasilkan sistem yang tidak demokratis meskipun terdapat struktur formal yang tampaknya demokratis.
Hal ini terlihat dalam cara-cara partai politik dan politisi mengendalikan sistem pemilihan umum, sering kali mengabaikan kepentingan rakyat dan lebih fokus pada keuntungan pribadi dan kelompok.
Oligarki politik ini berpengaruh besar terhadap kehidupan sosial-ekonomi masyarakat, termasuk kelompok yang terpinggirkan.
2. Penurunan Keterlibatan Pemuda dan Mahasiswa dalam Perlawanan Sosial
Pada tahun 2025, keterlibatan pemuda dan mahasiswa dalam gerakan sosial dan perlawanan terhadap oligarki mengalami penurunan yang signifikan.
Salah satu faktor yang menyebabkan hal ini adalah pengalihan fokus generasi muda kepada masalah-masalah pribadi dan ekonomi.
Dengan meningkatnya biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi, banyak pemuda yang lebih cenderung fokus pada pencapaian pribadi dan karier daripada memperjuangkan keadilan sosial.
Fenomena apatisme politik juga semakin meluas di kalangan mahasiswa, di mana mereka enggan terlibat dalam pergerakan sosial dan politik.
Banyak dari mereka yang merasa bahwa perubahan sistemik tidak mungkin tercapai dan bahwa perjuangan melawan oligarki adalah hal yang sia-sia.
Hal ini dapat dijelaskan dengan teori apathetic politics, yang menyatakan bahwa generasi muda dapat kehilangan harapan terhadap sistem politik karena merasa tidak ada perubahan yang signifikan.
Selain itu, hadirnya media sosial dan informasi yang berlimpah cenderung menciptakan bubbles atau ruang informasi yang terisolasi, yang mengarah pada ketidakterlibatan secara langsung dalam pergerakan sosial.
Pemuda dan mahasiswa cenderung terperangkap dalam dunia digital dan lebih tertarik pada isu-isu individualistik daripada berbagi kesadaran kolektif mengenai ketidakadilan yang dialami oleh kaum tertindas.







Keren