Jejak Baduy: Kaki Telanjang untuk Tradisi Abadi

Warga Baduy duduk berkumpul pada acara Seba Baduy 2026/Dok.

LEBAK — Puluhan warga Baduy Dalam rela berjalan kaki menempuh ratusan kilometer demi mengikuti tradisi Seba Baduy, ritual adat sakral yang telah diwariskan turun-temurun dari leluhur.

Di tengah kegelapan dini hari, mereka melintasi jalan setapak di perbukitan curam, menembus hutan kawasan Gunung Kendeng tanpa rasa takut terhadap ancaman ular berbisa maupun binatang buas lainnya.

Bagi masyarakat Baduy Dalam dari Kampung Cibeo, Cikawartana, dan Cikeusik, Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, berjalan kaki merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Mereka tetap memegang teguh adat istiadat dengan ciri khas pakaian putih, celana putih, dan ikat kepala putih, berbeda dengan Baduy Luar yang sudah lebih modern.

Untuk mengikuti Seba, mereka berjalan dari kampung halaman menuju Kota Rangkasbitung, lalu melanjutkan perjalanan ke Kota Serang, ibu kota Provinsi Banten, dengan total jarak pulang-pergi sekitar 200 kilometer.

Meski perjalanan melelahkan, mereka tetap menjalaninya dengan penuh semangat. Di sepanjang perjalanan, mereka beristirahat sambil makan dan minum dari bekal yang dibawa dari kampung.

Setelah merayakan Seba bersama Bupati Lebak Mochamad Hasbi Asyidiki di Pendopo Kabupaten Lebak, Jumat (24/4), mereka melanjutkan perjalanan untuk bertemu Gubernur Banten pada Sabtu (25/4), sebelum kembali ke kampung halaman.

Rahman (50), warga Baduy Dalam, mengatakan dirinya bersama 36 warga lainnya berjalan kaki untuk mengikuti perayaan Seba yang menjadi bagian sakral setelah menjalani ritual Kawalu selama tiga bulan.

“Kami berjalan kaki untuk mengikuti Seba dan bersilaturahmi dengan Bapak Gede, sebagaimana diajarkan kokolot atau tetua adat dari leluhur nenek moyang,” katanya di Lebak, Sabtu, (25/4/2026).

Menurut dia, dalam tradisi Seba, masyarakat Baduy Dalam selalu menyampaikan harapan agar kehidupan mereka tetap aman, damai, nyaman, dan kondusif.

Ia mengaku, dahulu kampung mereka sering mengalami kehilangan ternak serta gangguan dari penambang emas liar yang merusak hutan. Namun kini, kondisi tersebut jauh lebih aman berkat perlindungan pemerintah.

“Kami berterima kasih kepada Bapak Gede karena masyarakat Baduy Dalam sekarang bisa tidur nyenyak dan merasa aman,” ujar Rahman.

Hal serupa disampaikan Ato (55), yang menyebut Seba sebagai kewajiban adat yang harus dijalankan. Jika tidak dilaksanakan, masyarakat khawatir akan terjadi malapetaka.

Tradisi Seba sendiri telah berlangsung ratusan tahun sejak masa Kesultanan Banten dan terus dilestarikan hingga sekarang.

Seba Jadi Simbol Syukur dan Harmoni

Kepala Desa Kanekes sekaligus tetua adat, Jaro Oom, mengatakan Seba merupakan tradisi tahunan yang sangat penting karena menjadi simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen ladang yang melimpah.

Dalam perayaan ini, masyarakat Baduy menyerahkan hasil bumi seperti beras huma, ubi-ubian, buah-buahan, hingga laksa kepada kepala daerah sebagai bentuk penghormatan dan kebersamaan.

Penyerahan hasil bumi itu menjadi simbol hubungan harmonis antara masyarakat adat dan pemerintah.

“Tradisi Seba bukan hanya ungkapan syukur, tetapi juga mencerminkan nilai kedamaian, keharmonisan, dan kebersamaan dalam kehidupan masyarakat Baduy,” kata Jaro Oom.

Pada Seba 2026, sebanyak 1.552 warga Baduy Dalam dan Baduy Luar menghadiri perayaan di Pendopo Pemerintah Kabupaten Lebak.

Ia berharap seluruh rangkaian ritual berjalan lancar dan seluruh peserta dapat kembali ke wilayah hak ulayat adat dengan selamat.